info@ulamajambi.web.id Sengeti, Muaro Jambi, Jambi, Indonesia
Senin, 21-09-2026
Pendiri Ponpes Sa'adatudaren Jambi

KH. Ahmad Bin Syakur (Guru Gemuk)

Wilayah Dakwah: Kota Jambi

KH. Ahmad Bin Syakur (Guru Gemuk)
Ringkasan Karakteristik

KH. Ahmad bin Syakur, yang akrab disapa Guru Gemuk, adalah pendiri Pondok Pesantren Sa'adatuddarein di Kota Jambi. Beliau lahir dari keluarga saudagar, menuntut ilmu di Mekkah sejak usia belasan tahun, dan mendirikan pesantren tersebut pada tahun 1915 M sebelum wafat pada usia 47 tahun di tahun 1923.

Kembali ke Daftar Ulama

Riwayat & Biografi

KH.Ahmad Syakur merupakan anak seorang saudagar yang sukses ibunya bernama Hamidah dan bapaknya bernama Syukur Beliau pergi ketanah suci Mekkah dalam usia yang cukup belia umur belasan tahun, sampai – sampai sempat dibelikan rumah oleh orang tuanya yang disebut rumah kaleng, dan pada waktu terakhir beliau sempat membawa istri beliau ketanah suci mekah, tetapi takdir menghendaki lain istri beliau meninggal ditanah suci mekkah setelah melahirkan anak pertama beliau.
KH.Ahmad Syakur mendirikan Pesantren ini tidaklah mempunyai modal yang cukup beliau menjual beberapa ruko warisan dari orang tua beliau yang ada dipasar kota jambi dan dibantu oleh kerabat beliau dan masyarakat untuk biaya operasional pondok Sa’adatuddaren pada masa itu beliau setiap tahun pergi keluar negeri terutama negara tetangga dan negara Islam dan beliau meminta bantuan dari teman – teman beliau yang berada dinegara tersebut. beliau juga menganjur kan kepada masyarakat agar dapat mendarmakan sebagian hasil usaha, terutama hasil kebun karet agar dapat diwakafkan dan disumbangkan untuk biaya operasional pesantren ini.
Beliau sendiri hanya sempat memimpin Pesantren ini lebih kurang 8 (delapan ) tahun. Maka pada tahun 1923 M. Beliau wafat dalam usia yang terbilang cukup muda yaitu 47 tahun. tongkat kepemimpinan dilanjutkan oleh muridnya yang bernama KH.Abdul Rahman .
KH.Abdul Rahman memimpin pesantren ini lebih kurang 2(dua ) tahun. dan setelah sekembalinya menuntut ilmu dinegeri Makkah lebih kurang enam tahun murid beliau yang bernama Abu Bakar Syaifuddin tampuk kepemimpinan diserahkan kepadanya tahun 1925 M. Dimasa itu pondok pesantren Sa’adatuddaren mengalami kemajuan yang sangat pesat jumlah santri sampai melebihi kapasitas penampungan, sehingga pemondokan santri tersebar diseluruh kampung Tahtul Yaman. Bahkan keharuman nama pesantren Sa’adatuddaren terdengar sampai ke Manca Negara. seperti pencetakan surat – menyurat pengurus PP.Sa’adatuddaren harus pergi ke Singapura hingga masa pendudukan Jepang.
Semasa pendudukan jepang tidak banyak yang dapat dilakukan dipondok ini, mengingat keras dan biadabnya pendudukan jepang, guru-guru serta tokoh masyarakat ditangkap dan dipenjarakan sehingga banyak yang takut untuk melakukan aktifitas bahkan santri yang ingin belajarpun terhalang dengan kerasnya penindasan yang dilakukan oleh tentara Jepang pada masa itu. Dan selama pendudukan Jepang ini aktifitas pondok ini boleh dikatakan lumpuh, tercatat dalam sejarah memiliki santri yang sangat sedikit hanya 3 orang santri dan satu orang guru inipun masih harus kita bersyukur mengingat pesantren yang lain lumpuh total bahkan tidak ada lagi guru yang ingin mengajar dan lari kehutan – hutan. Untuk menghindari teror yang dilakukan oleh tentara Jepang. Dan KH.Abu Bakar Syaifuddin sendiri lari ke daerah asalnya Ds.Teluk Rendah Ma.Tebo dan akhirnya wafat dalam usia 63 tahun.
Setelah Jepang menyerah pada sekutu tahun 1945 pesantren ini mulai diaktifkan kembali dan dipimpin oleh: KH.AbddullahSyargawi tamatan Mesir dan merupakan anak dari pendiri pesantren ini. kemudian dilanjutkan oleh KH.Muhammad Zuhdi (Guru Zuhdi ) Kemudian oleh KH. Abdul Majid menantu dari KH.Ahmad Syukur Pendiri Pesantren ini lebih kurang selama 3 ( tahun ) pada tahun 1954 sekembalinya KH.Zaini bin Abdul Qodir kepemimpinan pondok ini diserahkan kepada beliau dan beliau memimpin pondok ini lebih kurang selama satu tahun setengah dan pada tahun 1956 sekembalinya KH.Ahmad Jaddawi dari Mekkah kepemimpinan pondok ini diserahkan kepada KH.Ahmad Jaddawi.
KH.Ahmad Jaddawi anak dari KH.Abu Bakar Syaifuddin. beliau ikut mengajar disalah satu Universitas yang cukup ternama dinegeri Makkah bahkan beliau diangkat menjadi Qhodi ( Hakim ) oleh pemerintahan kerajaan Arab Saudi dinegeri Makkah lebih kurang selama 6 tahun. Akhirnya beliau dipanggil pulang oleh paman beliau Abdul Roni, adik dari pendiri pesantren ini. mengingat kemampuan KH.Ahmad Jaddawi dan beliau menguasai beberapa bahasa asing. KH.Ahmad Jadawi memimpin pesantren ini selama lebih kurang (dua Puluh lima ) tahun dari tahun 1956 s/d tahun 1989 M. Ini merupakan pimpinan yang terlama selama berdirinya pesantren ini. Dan beliau wafat pada tahun 1991 dalam usia 71 tahun kemudian kepemimpinan pondok ini dipengang oleh KH.Zaini bin Abdul Qodir lebih kurang 6 ( enam ) bulan dikarenakan usia dan kesehatan, beliau menyerahkan kepemimpinan pondok ini kepada guru Abdul Qodir Mahyuddin guru Abdul Qodir Mahyuddin merupakan kemenakan dari guru Ahmad Syukur beliau memimpin pondok ini lebih kurang selama 13 tahun dan mengingat usia beliau yang sudah lanjut pada tahun 2003 kepemimpinan pesantren ini dilanjutkan oleh guru H. Helmi Abddul Majid hingga sekarang.
Pimpinan pondok pesantren sekarang merupakan murid dari pimpinan yang terdahulu. Pondok Pesantren Sa’adatuddaren terletak dipinggir sungai Batang Hari tepatnya dikelurahan Tahtul Yaman Kecamatan Pelayangan Kota Jambi jaraknya dari pusat kota lebih kurang 3 ( tiga ) kilometer dari pusat kota Jambi.

Sumber : https://ponpessaadatuddaren.blogspot.com/p/blog-page.html